Sungai Sarawak

Sungai Sarawak

Sungai Sarawak

Slide # 2

Slide # 2

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 3

Slide # 3

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 4

Slide # 4

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 5

Slide # 5

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Showing posts with label memori. Show all posts
Showing posts with label memori. Show all posts

Wednesday, August 12, 2009

MENYUSUR MEMORI

Sesekali aku bermimpi
teringat ummi
menyesah pakaian kami
di bibir perigi
di belakang rumah kongsi
dan aku ikut mandi pagi

seketika dalam lena
kulihat bapa rajin bekerja
di gudang Jardine Waugh
di susur sungai Sarawak
berhadapan kampung tradisi
tempat tinggal pejuang negeri
lama sebelum merdeka bersemi

pesan ummi semasa mandi
kuingati hingga ke hari ini
"kasihi saudaramu dan juga jiran
jangan kautabur fitnah dan dendam
lukanya sukar dilupakan"

bapa seorang yang tabah
enggan menyerah atau pasrah
untuk hidup hilangkan resah
berduka tiada dalam kamusnya
selagi nafas belum berhenti
dia tidak ingin bermimpi
katanya, "hidup hanya sekali
lakukan kebaikan sehingga mati"

usiaku baharu enam tahun
di tepi perigi aku bermain
perahu layar daripada sabut
layarnya sekerat daun nipah
kulihat perahu layarku dipuput angin
menyusur perigi di pagi dingin
ibu memerhati aku bermain
ah! perahu layarku diterbalik angin

sesekali dalam mimpi
aku suka kembali
menyusur memori
di sana kutemui harmoni.

12 Ogos 2009

Sunday, November 23, 2008

MENARA HARAPAN (2)

 
 MENARA HARAPAN (2)

(Allahyarham Haji Odita Ibrahim, teman di kota taman dalam kenangan -Al Fatihah)

Kuingati perit bengit
mendepani karenah kuasa
dan prejudis korporat
ketika menbdaki manara cita
untuk menjadi dewasa
mengejar mimpi ayahanda

Lima tahun yang panjang
bertandang di sekolah tinggalan penjajah
kita belajar nilai kemanusiaan
mentafsir makna kehidupan
memahami erti kesetiakawanan
menilai martabat asing
kita pun menjadi dewasa

di penghujung waktu
kita susuri tekad dan hasrat
melangkah ke daerah masa muka
dari dua hala yang berbeza
aku terdampar di kaki cangkat
kau penjelajah kota metropolitan
kita hilang bersama musim yang berganti
mengejar destinasi yang pasti

kuingati laluan usang
yang telah memerdekakan jiwa
setelah tiga puluh tiga tahun
sejarah tertinggaaal di sudut fikir
lalu kutulis puisi untukmu
dan setiakawan adalah tema yang pasti
kita tinggal di kota taman
namun terlalu sukar untuk bersalaman

Begitulah masa menentukan segala
tiada ruang untuk kembali ke alam remaja
walaupun jauh di lubuk hati
tersimpan kerinduan seorang teman
menjenguk kembali jejak-jejak silam
tersimpan seribu cerita

pagi sunyi kuterima berita dari teman
kau kembali menemui Tuhan
dan aku menjadi kaku dan bisu
terpahat seribu kesal
kita tidak sempat menjanjikan pertemuan
melukis reka Menara Harapan
lambang kesetiakawanan
untuk menghiasi laman
sebuah kota bernama teman.

Kuching
25 Oktober 2005
dipetik dari kumpulan puisi BINGKAI WAKTU

Thursday, November 20, 2008

MENARA HARAPAN (1)

(Buat seorang teman, arkitek di kota taman)

Menatap pencakar langit
tegak di persada kota
membuat aku kagum
pada jiwa seorang teman arkitek
yang dahulunya pernah menjadi buruh kasar
turut membina Bangunan Yun Phin perkasa
di tengah kota taman
kuingat sepanjang zaman

Begiutlah masa mengabadikan cerita
ada sejarah boleh membuat kita marah
ada kenangan memberi ketenangan
ada memori tinggal bersemi di hati
ada perjuangan tidak pudar dari ingatan
ada teman tidak terlupakan
ada cita-cita tidak kesampaian
ada harapan tidak kecapaian

Menatap arca budaya yang pernah diukir
aku rasa terpanggil untuk merakam
cerita kita di tepian kota
menggerakkan kesungguhan hati
memaknakan kesatuan
menulis cerita budi
di atas pentas bangsawan
menari, menyanyi mendukung harmoni

ketika usia bergerak lari
kupohon darimu sedulang janji
binakan sebuah menara harapan
di atas tapak kesetiakawanan
agar dapat kutoleh saat yang hilang
terlalu banyak pengajaran yang tertinggal di belakang

Tiga dekad yang terlepas
sukar kembali ke laman diri
entah esok masa kepergian
kita tak sempat meninggal pesan
tinggalkan potretmu di tengah laman
untuk kusimpan sepanjang zaman
bagimu mimpi bukan lagi khayalan
dan pelangi itu satu kenyataan.

Kuching
10 Disember 2003

dipetik dari kumpulan puisi: BINGKAI WAKTU
(nota tambahan: temanku ini meninggal dunia lebih setahun setelah puisi ini kutulis. Al-Fatihah)



Wednesday, November 5, 2008

PEREMPUAN TUA(3)

Perempuan tua dari Bintawa
kau lahir dari akar penegak budaya
dari pohon merimbun santun
berayahkan penoreh getah
yang tidak menyesali perih
menjunjung amalan soleh
menbangun keluarga dengan iman
bersendi harapan bertunjang sopan

Ibumu wanita ulungdi hujung kampung
mendepani masa dengan usaha
membina mahligai keluarga
memperkasa kehidupan berteraskan setia

Belum tercecah usia perawan
ayah dan ibu menemui Tuhan
kau terdampar di celah duka
bertamu di rumah tetangga
dengan peluh dan jerih
kau harungi gelombang sedih

Lima belas tahun terlalu muda
untuk menjadi isteri kekdua
seorang pemuda berbangsa India
yang susur galurnya bermula di Iraq
demi kehidupan yang lebih sempurna
kau harungi dugaan masa
membina keluarga berasaskan setia

Perempuan tua
dari seorang isteri muda
kau pertaruh seluruh upaya
membesar sebuah keluarga
bersandar adat dan budaya
menyuluh laluan dengan cahaya
bersendikan agama mulia

Lima kelahiran yang diderita
membesar menjadi manusia
-politikus negara penegak saksama
-pendakwah mulia penyebar agama
-pejuang sastera pemertabat budaya
-pengembara bertandang di tanah seberang
-dan si bongsu pelaut cekal

Perempuan tua dari Bintawa
masa telah melukis suasana
waktu telah menawar restu
tafsirkan senja dengan seribu makna
lautan tidak seluas ceritamu
malam tidak sesuram dukamu
bumi tidak seindah zuriatmu.

Kuching/Miri
1999

dipetik dari kumpulan puisi: BINGKAI WAKTU

Thursday, July 24, 2008

TANKA #072008

PAGI DI KAMPUNG
NIKMATNYA SERI MUKA
INGAT KEMBALI
BUDAK PENJUAL KUIH -
KINI SEORANG DATUK

Sunday, June 8, 2008

HAIKU#02808

DI DUSUN BUAH
KELUARGA BERTEMU
MANISNYA MANGGIS

Tuesday, May 27, 2008

HAIKU#01708


ALAM MENANGIS
KAMPUNGKU PUN TENGGELAM -
HUJAN DISEMBER

Monday, May 26, 2008

TANKA#032008

UMUR MENINGKAT
DARAH TINGGI MENEKAN
HATIKU SANGSI -
APAKAH YANG KAU KEJAR
PUISI ATAU AKU?



FOBIA

OMBAK minda memupur di pantai imaginasi

meretek jasad kusam

melihat diri di cermin mimpi

nanar yang menyentak khayal

menyinggir peribadi yang asli

yang telah dipupuk sejak lahir

lalu berlarilah ia mencari penawar

dari kepanasan yang tidak kenal erti kasih

menggelodak segumpal daging putih

menggoncang mahkota diri

sehingga mencabar segenggam waras

menggugat secupak sabar

Seketika ia kembali menjengah realiti

melalui ucapan retorik manusia

terdidik dalam bicara jiwa

lantas ia berdiri memandang damai

meretas khayal dari kenyataan

mericih kemelut dari tenang


Terima kasih wibawa

yang memimpin ke tepian nyata

pengap beralih ke dimensi asing

fobia berlari ke gelanggang sunyi

mencari seketul hati

yang bisa ditunggangi.

Miri

Tuesday, April 29, 2008

HAIKU#00808



DI HARI IBU
KULAFAZ FATIHAH-
KEMBOJA SAYU

Tuesday, April 8, 2008

MIRI KAMI


MIRI menghampar konsepsi
sebuah taman menghimpun budaya
melakar nama di peta negeri
sambil melukis potret diri
memburu khazanah di tebingan lesi

Miri menjaring realiti
membangun kampung di sudut kota
hadiah buat kami yang berjasa
hidup berjiran tanpa sengketa
setia menjunjung kasih ibunda

Miri anggun dan bergaya
bersolekkan puluhan budaya
Taman Futee menghias kota
Desa Tai Foo melamar warga
Soon Hup Tower berdiri gagah
kau dan aku tumpang bermegah

Miri memujuk tetamu
membeli belah di pasar raya Sin Liang
malam nanti ada pesta
makan malam di restoran Loke Thian

sudah kenyang kita dansa
di kelab malam Casablanca
bertemankan perempuan dari utara

Di sudut kota sudah ada bicara
pembangunan agenda utama
pantai sepi biarkan berteman
kekasihnya seorang jutawan
tanah tinggi kita ratakan
buat membangun projek perumahan
sungai yang cangkat ditimbuskan ditimbuskan
buat membina sebuah taman
dan deretan kedai penghias laman

Miri mencari identiti
sambil menatap wajah diri
emosi dan tradisi mencari haluan
konsepsi dan realiti bertemu di persimpangan
dalam membina harmonis
ada hati yang tergaris

Seorang aku yang tiba semalam
termenung kebingungan
mentafsir makna lukisan abstrak
-kolek karam dipukul badai
pantai dijerat lingkaran hitam
sedangkan mentari masih boleh bernyanyi
menemani siang yantercalar.

Miri 1995

Saturday, November 3, 2007

EMANSIPASI



SUBUH sunyi abah pergi
mengejar untaian mimpi
kehidupan bersulam erti
ditinggalkan sebuah janji
kembaranya pasti kembali

Tangannya pahat upaya
mengukir arca jiwa
Nusantara arah kembara
membangun syurga bentala
masa muka bersendi nama

Ketemu ummi di Nusantara
abah membina cinta
gadis pingitan di hujung kota
ketika usia teramat muda
ummi menjadi wanita waja
isteri kepada jejaka pengembara
demi sesuap nasi
dan denyut nadi
dua saudara

Abah dan ummi
meredah pelayaran hayat
dihempas ombak kesukaran
berbahterakan kasih sayang
dalam satu pelayaran
mencari pelabuhan
-emansipasi

Abah dan ummi membenih warisan
keluarga pemartabat bangsa
saudara bertujuh lambang cinta
seribu haluan di batas perjuangan
menegak agama, budaya dan
kehidupan insan

Empat dekad penuh berkat
abah kembali ke bumi sendiri
pada kami ditinggalkan pesan
letakkan ummi di persada kemuliaan
pertahankan kasih sesama insan
hapuskan sengketa sesama saudara

Di suatu pagi yang teramat sepi
abah kembali menemui Ilahi
rindunya pada kami
terakam di dalam sebuah puisi -
"Abah ingin kembali
meleraikan rindu di hati
namun upaya terlalu iri,
abah tinggalkan sebuah mimpi"

Kami terus mencari
mimpi abah tak ditemui
kata ummi -
"mimpi abah ada
pada setiap anaknya
yang memahami makna merdeka
dalam sebuah kehidupan
mentafsir erti bijaksana
menjunjung saksama di persada mulia"

Abah dan ummi melerai erti
mimpi itu emansipasi
kami yang tinggal mentafsir makna
simpulan kasih dan harga diri.

3 November 2007




Thursday, November 1, 2007

KELUH LIMA PULUH

LANGKAH usiamu
menggapai lima puluh pintu
teman di laman darwis cinta
menjejak denai kata-kata
aku amat tahu
nilai malam silam
dahina tiada lena
tari mentari mentafsir hati

Lima dekad menghunjam tekad
tembok setia di batas cinta
setiamu merentas masa
membusa momentum
keluh lima puluh pun berlabuh

Waktu begini kutulis puisi
hadiah hari jadi
buat isteri teman bermimpi
kita pun kembali berjanji
menyusun setia di hujung senja.

1 NOVEMBER 2007






Thursday, August 23, 2007

NILAI BUATMU


Semalam teman-teman sepejabat sekali lagi mengadakan majlis perpisahan buatku. Terasa benar kemesraan yang ditunjukkan oleh taulan. Aku tersentuh. Dalam suasana pagi yang sepi mereka hadiahkan sebuah potret klasik untuk tatapanku sepanjang masa sendiri setelah perkhidmatan sampai ke hujung jalan. Aku sendiri tidak menjangka kepiluan meresapi diri, tapi aku harus belajar menghadapi kesepian..kerana akhirnya nanti kita pasti akan kesepian jua..
Seorang teman sepejabat menghulur sekeping kertas. Kubuka dan kulihat di dalamnya potretku (seperti di bawah ini) dan sebuah puisi dengan tajuk NILAI BUATMU...puisi tulisan Norizan, teman sepejabat..Aku tidak pernah menjangka akan ada teman yang akan meneruskan usaha membudayakan puisi di JPNS...

Tahniah Norizan dan teruskan usaha..

Kucatatkan puisi tulisan Norizan untuk tatapan semua...
Norizan , awak punya bakat besar. Percayalah pada diri...

Nilai Buatmu
Di sini kekadang kuhulur jua
catatan saja-saja
yang punya ribuan cela
namun kutahu
kau sedia memaafkan, membetulkan
dan aku akan bersedia
mengutip mutiara iktibar

Dengan ucapan yang amat memikat
darjatmu itu segera terangkat,
maka dengan rasminya
kami yang punya mata dan telinga
akur dengan filsafat pujangga
bahawa kaulah penyair paling berharga

Kau inspirasi
mungkin nanti
sesudah kau pergi
aku tidak bisa lagi
menulis puisi

izanifa

22 Ogos 2007.