Pekaka Bakau pun bercerita
"akulah si baju biru
teman ombak menderu
pantai di tanah utara
kini milik penjarah rimba
kerana dosa birokrat haloba
kau tentu ingin menulisnya
bukankah puisi itu senjata?"
Pekaka Bakau berdada putih
membawa cerita sedih
nelayan hilang pangkalan
laluan ke pantai dihadang palang
di papan tanda tertulis amaran
"Private property no trespassing"
nelayan seperti pendatang asing
di atas tanah tinggalan leluhur
"tulislah puisi untuk dimengerti
bukan bait-bait yang kabur"
Pekaka Bakau memahami
makna sebuah kehidupan
"apakah kau masih berdiam diri
membiarkan alam dan bangsamu kedukaan?"
28 Disember 2011
Kawanan ciak rumah
bertandang di laman
mencicip dan menyanyi
bahagia sekali di bumi ini
di kota penuh cerita
makanan melimpah melata
dan ciak rumah pun berpesta
Ciak rumah dari negeri jauh
di bumi sang petani
singgah di rimba milik si pipit jawa
berjuang untuk kehidupan sempurna
kota ini telah menjadi syurga baginya
dari jendela
kulihat kawanan ciak rumah
menyerang seekor murai gila
yang bernyanyi dan menari
di atas dahan rambutan tua
katanya “ ini kawasan kita”
murai gila terbang jauh di belantara
sedang hatinya masih bertanya
“sejak bila mandala ini milik mereka?”
14 Disember 2011.
Sejak awal pagi dia berdiri
Di bawah pohon rendang
sekitar taman Pustaka Negeri
Berlindung dari panas mentari
Memerhati dan menanti hadirnya
Kunyit kecil, rembah, kelicap dan pekaka
bernyanyi dalam satu simfoni
dia ingin merakam wajah teman-temannya
untuk tatapan manusia
agar mereka mengerti
nilai sebuah merdeka
Mengabadikan siulan menjadi aksara
Menyusun aksara menjadi kata-kata
Menghimpun kata-kata menjadi bait-bait puisi
yang mentafsir suara hati
teman-temannya dari rimba
untuk tatapan Pak Menteri
dan anggota-anggota birokrasinya
minta dihentikan kemusnahan belantara
kerana hatinya berkata
teman-temannya akan sirna
oleh tangan–tangan penjarah rimba
lantas dia berjanji
pada pipit, merbah dan juga merpati
mempertahankan legasi bumi
demi kelestarian teman-temannya
fauna yang suci hati.
bertenggek di tepi tasik Pustaka Negeri
sabar menanti wajahnya dirakam untuk tatapan Pak Menteri.
18 Ogos 2011