CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Wednesday, November 18, 2009

BETE NOIRE



Dari lembah berwajah jingga
dicantasnya biru segara
memikul dendam bangsa
bersanktuari di kaki Titiwangsa
memeram gejolak jiwa
menggelegak lahar sengketa
ruapannya membunuh setia

dalam diam
kukesan curang menjalar
mindanya gugusan marah
berarak membenih gelora
penanya bertinta darah
untuk menulis sumpah
melunas hutang penjajah
menjarah maruah

tertipu aku oleh tafsiran
merdeka bertunjang saksama
dalam pelbagai makna
dan aku harus berpegang
dogma fatamorgana
setiaku dicagar
untuk sebuah mimpi
kesamarataan insani
dalam erti yang amat keji

BETE NOIRE!
nyah kau dari bumi ini.

18 November 2009

Wednesday, November 11, 2009

TANJONG LOBANG KETIKA SENJA


Tanjong Lobang ketika senja
kaki langitnya merah menyala
membakar selaut jiwa
terperangkap antara pantai dan samudera
mencari jalan susur
menembusi benteng batu sengketa
dibina saudagar dari lembah jingga

Tanjong Lobang waktu senja
adalah waktu bara jiwa wangsa
dikhianati pemuda dari kamar utama
tingkat lima menara utara

Tanjong Lobang ketika senja merakam luka nelayan pantai mencari jalan pulang.

11 November 2009



Wednesday, November 4, 2009

GITA NOVEMBER




GERIMIS di titian senja
menyingkap tirai ingatan
November musim bercinta
kita sepasang kekasih
dihanyut gita
kugubah menjadi puisi
kita pun menjahit malam
menjadi selimut warisan
pusaka zaman

aku ingin menjadi mentari
bercinta dengan pagi
akan kudakap langit sepi
ketika awan bermimpi
biar lembah niskala penuh rahsia
dibasahi magma rindu
dari lohong jiwa renta

aku berjanji
memugar sepi hati
seperti mentari
bercinta di ufuk jingga
didakap aura cahaya
malam seindah permata

kita adalah pengembara alpa
meredah rimba duga
dibusa angin pancaroba
mengharungi samudera dura
dilambung gelombang sengketa
berteduh di muara saksama
memunggah pasrah
kita teruskan odisi jiwa
menggalas bebanan cinta

aku masih bersamamu
menyusur sungai waktu
ketika bulan hilang warna
ketika malam enggan pulang
kerana kita adalah pengembara
gigih meneroka belantara cinta
mencari kota bernama setia

Gita November
adalah mimpi bahari
ketika malam berpuisi
dan kita didakap lestari,


29 NOVEMBER 2009


UTUSAN SARAWAK: 7 NOV 09


Saturday, October 31, 2009

BETAPA AKU TIDAK TAHU





Puisi 186: Betapa aku tidak tahu
~salam hormat Pak PenaBahari~
27 Oktober 2009

Malam
Ada retak retak bulan kelmarin
yang pecah sinarnya
mencari cahaya dalam dakap kemelut
mentari enggan pulang

kenapa tidak kudengar
lirih pena dari bicara hati
suara perkasa yang menongkah aksara
dengan akal kalam
dan dakwat fikir

di simpang
telinga sendiri menangkap gelak sinis hati
yang cuba mengapung malu dengan
sapa ramah

keterlaluan memacu aku
membikin aku tidak kenal

salam takzim
mawar marzuki

LAGU PUISI:MERINDU KEPASTIAN







andai esok aku menjadi tanah sudikah engkau menjadi bunga menghiasi dadaku...

Thursday, October 29, 2009

PUISI: PUJANGGA MANDALA


DARI suaranya yang menggeletar
kukesani ghairah mendesah
ada risau di nubarinya

bersemi menggeletek hati

ada resah berputik di jiwa-
suara dari pelosok kota itu
bicara tentang perjuangan
untuk sebuah nama
dinobatkan sebagai pujangga mandala

seketika nubariku terganggu
oleh sapaan pemuda dari luar kota
menggelarku karyawan generasi baru
setelah empat dekad menulis puisi
mengobati hati insani
dengan aksara murni
aku terkesima!

wajahku menceritakan lelah
meniti malam dengan sebatang kalam
menulis puisi suara nubari
untuk kujadikan misbah
menyuluh bijaksana
di hujung jalan usia
bukan untuk sebuah nama
pujangga mandala

sesekali aku ingin melahirkan rasa amarah
puisi yang kutulis mencegah
betapa aku tidak memahami nubari insani
betapa puisi mengajarku erti manusiawi.

29 Oktober 2009

UTUSAN SARAWAK; 7 NOV 09





Saturday, October 24, 2009

PUISI - TEPUS

di tebing sungai Balingian

PUISI - TEPUS

TEPUS terabai lelah

di susur sungai keruh
ditinggal arus waktu
menjadi beban masa muka
didera keperitan silam
dihumban ke jurang asfal
setelah segala isi rimba
tinggal kosong dan mati

sesekali, pengembara tiba
menjenguk bazar tua
yang sudah hilang maya,
untuk sebungkus rokok
jenama musim dahulu kala,
disapa anjing tak bernama
yang mencari seketul tulang
menjadi bahan gonggongan
direbut kawanan anjing liar
yang berkeliaran di dada bazar
akhirnya ditinggal di tepi jalan
menjadi sampah ditelan masa luka

Dalam perjalanan ke utara
kusapa Tepus yang rungkuh
mataku tidak pernah berhenti
menatap sekujur tubuh tua
yang duduk di bangku bazar
menghisap rokok daun nipah
tersenyum padaku
tanpa mempedulikan giginya
yang sudah tiada

Dia warga Tepus
yang ditinggal masa bahari
sabar menanti janji-janji lalu
kehidupan tanpa enigma
walaupun rimbanya sudah tiada
dan dia sudah tidak upaya
mengukir masa muka

Dalam sepi bergema gita luka
dari pekan usang
lagu yang sudah tidak dimengerti
Tepus menangis ditinggal odisi masa
menanti waktu mati

25 Oktober 2009

HINGGA AKHIR HAYAT

UNTIL THE LAST MOMENT - YANNI


Thursday, October 22, 2009

LELAKI YANG MENCARI MAKNA USIA

Meniti malam di ranjang usang
dia menghela nafas lelah
cuba memahami makna usia
yang enggan menjadi tua

lalu dikunyahnya bicara
pujangga negara
utara segara
cerita tentang manusia
tanpa istilah usia
tanpa watas masa

diselusurinya lorong cakerawala
menerawang antara gugusan awan
ketika masa terhenti
di batas lelah dan payah
antara lelap dan ilusi

langkahnya pantas melintas
setiap lorong dan jurang
antara gunung dan lembah
menghayati alunan irama
dari negeri tak bernama
berlirikkan cerita menggugah minda

akhirnya dia singgah ke pelabuhan realiti
menjadi lelaki yang dikecewakan usia
dalam sedar,nafasnya mula terhenti
usianya tidak bergerak lagi.

22 Oktober 2009.

BEN OKRI - LINES IN POTENSIS

Saturday, October 17, 2009

SEMERAH TEJA


Kutiduri malam bersamamu

didakap dingin

kuredah sepi pagi

bersama suria yang terlena


Akulah teman senjamu

berdiri di tebing sungai usia

menatap teja semerah darah

melantun warna luka

dan merah itulah yang tertinggal

bersama mimpiku


Kunanti sepenuh hati

cahaya mentari pagi

menembusi langit menghapus kabus

kuingin melihat senyum dari wajahmu


Semerah teja di akhir senjamu

seindah itulah mimpiku

dan kita terus berbicara

tentang cinta di akhir usia.


16 September 2007


Friday, October 9, 2009

DINASTI MERPATI


Kusungging jaluran Bimasakti

melatar pentas malam,

prolognya,

lentera padam

bulan diramas, lemas

dalam dakapan awan jalang.

dia berdiri;

seperti laksamana ternama,

tangan menjunjung panji-panji,

pekikannya mencantas nubari,


“Akulah raja, aku laksamana

di mandala rimba

susur galurku pangeran adi

dari wadi di hujung benua,

aku akan berdiri di sini

untuk seratus tahun lagi”


Di pentas sandiwara ini;

aku harus berdiri

menjadi dubalang malang

tercabut jiwa merdeka.


Pentas kosong

bumbung melopong

jelata terkurung


Dia berdiri

bertongkat lembuara kuasa

membunuh merdeka

dari tubuh-tubuh lata

dia terus ketawa


Seorang penyair tua

dari persada Rama

mendendangkan syair bianglala

suara dialun

penonton terpegun

jiwa meruntun


aku ikut terleka

lakonannya penawar jiwa

lupa pada duka

dipenjara minda.

kisah pangeran,

terbuang,

kini berdiri di sini

membina dinasti merpati.


20 Jun 2008




Tuesday, October 6, 2009

PURNAMA DI KUALA



Purnama dari Kuala
anak pengamal perubatan herba
tinggal di tebing sungai setia
tempat lahir pahlawan bangsa

Purnama puteri berhati waja
wanita desa jelita
penulis puisi, isteri setia
bahasa selembut sutera

Ketemu purnama di seminar sastera
wajah ayu mempesona
suara lantang pejuang bangsa
visinya membina keluarga bahagia
aku terkesima

Malam persembahan budaya
Purnama mendeklamasi puisi
tajuknya "sumpah Srikandi"
-nendaku pejuang bangsa
dengan darah dan air mata
gugur di bumi tercinta
demi maruah raja dan negara

kukatakan pada Purnama
- kau wanita waja
terimalah aku seadanya
menjadi teman di laman bahasa
bersama menghiasi taman sastera

Purnama tersenyum dan mula bercerita
kisah hidup bersulam duka
punya ibu entah ke mana
ayah telah lama tiada
Purnama saudara tertua
tugasnya amat mendera

-aku wanita desa
jarang sekali menjenguk kota
kalau bersahabat ikhlas bicara
kuterima dengan raga terbuka
bicara Purnama seikhlas jiwa

Akhir seminar kami bersua
sekeping potrert kurakam jua
untuk kusimpan di galeri hati
Purnama tentu mengerti

Purnama wanita dari Kuala
kurakam bicaranya di dalam dada
mengingatkan aku momen remaja
ketika malam disulam cinta.

27 Januari 2009

Saturday, October 3, 2009

SCARBOROUGH FAIR

Antara lagu yang sangat saya sukai. Seingat saya lagu ini mula saya nikmati sejak berumur lapan belas tahun ( tiga puluh lapan tahun lalu). Dan saya kekal terhibur sehingga hari ini. Hari ini tiada apa yang dibuat di rumah. Isteri sedang masak kari kambing untuk makan malam ini bersama seorang anak yang baru datang dari KL. Sementara menunggu kari kambing masak saya layan diri dengan mendengar lagu Scarborough Fair pelbagai versi . Nah saya lekatkan salah satu versi untuk hiburan bersama.


Sunday, September 20, 2009

SELAMAT HARI RAYA

Pada saat dan bulan yang mulia ini saya ingin mengucapkan selamat hari raya maaf zahir batin buat semua teman dan pengunjung blog saya. Saya mungkin telah tersalah bahasa terlepas kata yang mungkin tidak disengajakan telah menyentuh hati dan perasaan teman, mohon saya dimaafkan.
Buat teman-teman yang telah menghantas ucapan melalui sms yang tak terbalas, maafkan saya, teman-teman tetap di hati saya. Bagi teman-teman yang berada di Kuching silalah berkunjung ke rumah.
Semoga anda diberkati Allah jua.

Wednesday, August 26, 2009

PUISI ; JALAN PULANG

JALAN PULANG
(Allahyarham Sahnizam bin Sabu dalam kenangan)

KAUSELUSURI titian waktu
merentasi jejak dura
di perbatasan hayat
merangkak dalam kelam
dengan nafas yang tersekat-sekat

Telah tiga tahun
kau melayani kegetasan jantung
dihimpit keterbatasan diri
sesekali bicaramu menerobos pilu
perjalanan semakin sukar

Tentu sekali bukan pilihanmu
membebani insan
yang amat menyayangi
kerana bebanan itu
manifestasi kasih sayang
tafsiran makna keluarga

salam perpisahan
kauucapkan jua akhirnya
ketika Ramadan melamarmu
setelah kautemui
jalan pulang ke negeri abadi

berehatlah dalam tenang saudaraku Shahnizam.

Kpg Buso, Bau, Sarawak
24 Ogos 2009


Saturday, August 22, 2009

SEKETIKA DI ALAM PURBA

Aku diajak teman
mengikuti program sastera
berpuisi di gua Niah
sambil menatap sejarah manusia
tamadun tinggalan dahulu kala
kembali seketika di alam purba

mereka berkata,
di sini tamadun bermula
manusia purba meninggalkan cerita
epigraf renta di dinding gua hijau tua
kutafsir, namun tak berupaya
melihat kehidupan mereka

di hadapan gua kulihat pusara
terbaring jasad-jasad mereka
antaranya seorang wanita
di samping beberapa jasad jejaka
dan aku bertanya mengapa?
ada yang ingin kaubicara pada dunia
tentang manusia yang kugelar purba
ketika masa terhenti seketika

dalam tenang kudengar bisikmu
tentang masa luka
tika kuasa menjajah minda
tika manusia merajalela
tika masa didukung sengketa
dan manusia membunuh demi kuasa
menjadi raja sebuah gua
sengketa mencetus duka
duka sepanjang masa purba

kujengah Niah di celah rimba
perakam wajah tamadun purba
untuk kurasa debar jiwa
manusia yang ditinggal masa
dan aku terus bertanya
perlukah kita mengulangi cerita lama
untuk kembali menjadi manusia


Niah
29 November 2008

Friday, August 21, 2009

PINTU WAKTU


Entah mengapa,
aku ingin menjenguk
laman zaman
di batas silam
setelah kujejak
pelabuhan senja
bahteraku terlalu tua
untuk merentas segara

Lalu kubuka pintu waktu
kulihat jelas
masa yang terlepas
janji yang nyeri
kasih yang perih
sesekali anak kecil
menangisi hadir gergasi
di dalam mimpi

ah! indahnya jalan
di belakang usia
tak bisa kuundur langkah
lantas kututup kembali
pintu waktu
kerana masa masih ada
untuk kupergi
mencari abadi dalam diri


17 April 2009

KEDALUWARSA

(Aku berdiri memerhati tarikh luput tertulis di sudut atas sebuah bungkusan makanan yang sangat menyelerakan di hadapanku namun tempoh eloknya telah berlalu. Ia tinggal menjadi makanan yang telah luput tarikh keenakan, kesegaran dan kebolehpercayaan.Tahukah kau apa yang menyelerakan itu?)

Tempohmu telah tamat
suaramu hilang keramat
sayangmu sudah terlambat
wajahmu sukar diubat
dosamu teramat berat
hatimu mesti bertaubat

sudah tiba masa
untuk kembali ke desa
kembalikan ingatan dan rasa
sayang pada bangsa
yang memberi sejuta jasa

kembalilah ke pangkal jalan
langkahmu jauh menyimpang
jangan biarkan dendam
membunuh jiwa pejuang
pandang wajah mereka
yang memusuhi sengketa

(Alangkah baiknya jika makanan itu dapat berkata-kata. Tahukah kau apa yang akan diperkatakannya)

21 Ogos 2009

Wednesday, August 12, 2009

LAGU YANG SATU



KUNYANYIKAN lagu itu
lagu yang satu
meruntun kalbu
membuka pintu waktu

bertanya waktu pada kalbu
perlukah bersatu
dalam haru
atau harukan satu
menjadi waktu
membakar kalbu

sejenak malu
merenung masa lalu
malam terlarang
siang temaram
apa mahumu?

sukarnya memahat rindu
menjadi tugu
senangnya mengisar pilu
menjadi debu

malam pun kelabu.

12 Ogos 2009