Sungai Sarawak

Sungai Sarawak

Sungai Sarawak

Slide # 2

Slide # 2

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 3

Slide # 3

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 4

Slide # 4

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Slide # 5

Slide # 5

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

Sunday, December 7, 2008

SESEKALI

sesekali daalam tenang
aku perlu melangkah jauh
ke pulau bening
mencari mentari pagi

sesekali dalam sepi
aku harus berlari sendiri
di pantai putih
mengutip sisa usia
dihempas ombak masa

kegelapan malam di kota bingar
menamabah resah
lalu malamku di sini
menjadi teman sezaman

akan kuhilangkan segala perit
dipanah dendam semalam
yang bermula
dari sebuah cerita cinta
yang tak bernama

di pulau sepi inilah
tempat asalku
di sini d laut biru
di pulau hijau
di pantai putih
kutemui hening alam

betapa aku merindui
semalam yang kian jauh
betapa aku terus dilukai
pada setiap ruang jasad

di sini aku berlari mencari mimpi
yang hilang di malam kusam
akan kupulihkan segala resah
akan kuhilangkan segala perit

Langit kian hitam
laut kian geram
dan aku perlu berani merentasi
taufan hati yang bertiup
di setiap detik usia

kibarkan sahaja panji-panji kemenanganmu
dalam perang yang tak berhujung ini
aku pasrah pada ketentuan
yang sudah tersurat di dalam sejarah diri.

Jun 2006

dipetik dari kumpulan puisi BINGKAI WAKTU

Saturday, December 6, 2008

SAJAK TENTANG MALAM

DI SEMINAR sastera
dia membentang kertas kerja
tentang aku penulis sajak
taksub pada tema malam, 

bulan,bintang dan cinta
yang tidak punya makna

seperti akademikus ulung
dia bicara tentang aku
yang menulis dari susur balam
sajak tentang malam
tanpa jiwa perjuangan

aku hanya penulis jalanan
berbicara tentang makanan
dan kehidupan anak alam
yang berkeliaran di pedalaman
bukan cerita makan malam
di rumah orang ternama

aku juga bukan sasterawan
mengungkap tema perjuangan
dengan semangat ketuanan
kerana aku tahu
puisi itu kebenaran
ditulis bertintakan kejujuran

aku bukan menulis
sajak ambiguiti
membawa fikiran tinggi
tentang perjuangan hakiki
aku hanya menulis
sajak tentang malam
bila mentari kembali bersembunyi

aku menulis puisi
berbicara tentang malam
dan sukarnya kehidupan
tanpa lantera 

penyuluh masa depan.

23 April 2008




Friday, December 5, 2008

HAIKU 04808

PAGI DI MIRI

MENTARI JADI SAKSI

CINTA BERSEMI







Sunday, November 23, 2008

MENARA HARAPAN (2)

 
 MENARA HARAPAN (2)

(Allahyarham Haji Odita Ibrahim, teman di kota taman dalam kenangan -Al Fatihah)

Kuingati perit bengit
mendepani karenah kuasa
dan prejudis korporat
ketika menbdaki manara cita
untuk menjadi dewasa
mengejar mimpi ayahanda

Lima tahun yang panjang
bertandang di sekolah tinggalan penjajah
kita belajar nilai kemanusiaan
mentafsir makna kehidupan
memahami erti kesetiakawanan
menilai martabat asing
kita pun menjadi dewasa

di penghujung waktu
kita susuri tekad dan hasrat
melangkah ke daerah masa muka
dari dua hala yang berbeza
aku terdampar di kaki cangkat
kau penjelajah kota metropolitan
kita hilang bersama musim yang berganti
mengejar destinasi yang pasti

kuingati laluan usang
yang telah memerdekakan jiwa
setelah tiga puluh tiga tahun
sejarah tertinggaaal di sudut fikir
lalu kutulis puisi untukmu
dan setiakawan adalah tema yang pasti
kita tinggal di kota taman
namun terlalu sukar untuk bersalaman

Begitulah masa menentukan segala
tiada ruang untuk kembali ke alam remaja
walaupun jauh di lubuk hati
tersimpan kerinduan seorang teman
menjenguk kembali jejak-jejak silam
tersimpan seribu cerita

pagi sunyi kuterima berita dari teman
kau kembali menemui Tuhan
dan aku menjadi kaku dan bisu
terpahat seribu kesal
kita tidak sempat menjanjikan pertemuan
melukis reka Menara Harapan
lambang kesetiakawanan
untuk menghiasi laman
sebuah kota bernama teman.

Kuching
25 Oktober 2005
dipetik dari kumpulan puisi BINGKAI WAKTU

Thursday, November 20, 2008

MENARA HARAPAN (1)

(Buat seorang teman, arkitek di kota taman)

Menatap pencakar langit
tegak di persada kota
membuat aku kagum
pada jiwa seorang teman arkitek
yang dahulunya pernah menjadi buruh kasar
turut membina Bangunan Yun Phin perkasa
di tengah kota taman
kuingat sepanjang zaman

Begiutlah masa mengabadikan cerita
ada sejarah boleh membuat kita marah
ada kenangan memberi ketenangan
ada memori tinggal bersemi di hati
ada perjuangan tidak pudar dari ingatan
ada teman tidak terlupakan
ada cita-cita tidak kesampaian
ada harapan tidak kecapaian

Menatap arca budaya yang pernah diukir
aku rasa terpanggil untuk merakam
cerita kita di tepian kota
menggerakkan kesungguhan hati
memaknakan kesatuan
menulis cerita budi
di atas pentas bangsawan
menari, menyanyi mendukung harmoni

ketika usia bergerak lari
kupohon darimu sedulang janji
binakan sebuah menara harapan
di atas tapak kesetiakawanan
agar dapat kutoleh saat yang hilang
terlalu banyak pengajaran yang tertinggal di belakang

Tiga dekad yang terlepas
sukar kembali ke laman diri
entah esok masa kepergian
kita tak sempat meninggal pesan
tinggalkan potretmu di tengah laman
untuk kusimpan sepanjang zaman
bagimu mimpi bukan lagi khayalan
dan pelangi itu satu kenyataan.

Kuching
10 Disember 2003

dipetik dari kumpulan puisi: BINGKAI WAKTU
(nota tambahan: temanku ini meninggal dunia lebih setahun setelah puisi ini kutulis. Al-Fatihah)



Sunday, November 16, 2008

DUKA PURNAMA

Ingin kugapai purnama
seketika dalam mimpi
menghiasi kamarku
malamku didakap tenang
dan aku kembali muda

duka menerpa purnama
durja dilitupi mega
malam dirasuk kelam
langit teramat cemburu
dan aku menjadi layu

kuhembus gugusan awan
kusergah mega durjana
musim pun berlalu
meninggalkan pelabuhan alam
kembara menjelajah cakerawala
cinta pun berkelana
tersesat di rimbs fana

malamku kian hilang
purnama sirna
dan aku kembali ke dunia nyata
menjadi kekasih setia.

Kuching
20 Ramadan 1426

dipetik dari Kumpulan Puisi BINGKAI WAKTU


Friday, November 14, 2008

HAIKU#047008

HUJAN DISEMBER
SUNGAI MELIMPAH TEBING
KAMI BERENANG

Wednesday, November 5, 2008

PEREMPUAN TUA(3)

Perempuan tua dari Bintawa
kau lahir dari akar penegak budaya
dari pohon merimbun santun
berayahkan penoreh getah
yang tidak menyesali perih
menjunjung amalan soleh
menbangun keluarga dengan iman
bersendi harapan bertunjang sopan

Ibumu wanita ulungdi hujung kampung
mendepani masa dengan usaha
membina mahligai keluarga
memperkasa kehidupan berteraskan setia

Belum tercecah usia perawan
ayah dan ibu menemui Tuhan
kau terdampar di celah duka
bertamu di rumah tetangga
dengan peluh dan jerih
kau harungi gelombang sedih

Lima belas tahun terlalu muda
untuk menjadi isteri kekdua
seorang pemuda berbangsa India
yang susur galurnya bermula di Iraq
demi kehidupan yang lebih sempurna
kau harungi dugaan masa
membina keluarga berasaskan setia

Perempuan tua
dari seorang isteri muda
kau pertaruh seluruh upaya
membesar sebuah keluarga
bersandar adat dan budaya
menyuluh laluan dengan cahaya
bersendikan agama mulia

Lima kelahiran yang diderita
membesar menjadi manusia
-politikus negara penegak saksama
-pendakwah mulia penyebar agama
-pejuang sastera pemertabat budaya
-pengembara bertandang di tanah seberang
-dan si bongsu pelaut cekal

Perempuan tua dari Bintawa
masa telah melukis suasana
waktu telah menawar restu
tafsirkan senja dengan seribu makna
lautan tidak seluas ceritamu
malam tidak sesuram dukamu
bumi tidak seindah zuriatmu.

Kuching/Miri
1999

dipetik dari kumpulan puisi: BINGKAI WAKTU

Sunday, November 2, 2008

SEKADAR MIMPI

SEMALAM aku bermimpi
mentari tidak kembali
kita pun bergelap
dan kehidupan pun malap
untuk kesekian waktu

yang tinggal memberi sinar
hanyalah kunang-kunang bejuta
datang membawa cahaya dan bahagia
di saat kegelapan menyelimuti alam

rupanya mentari tidak bersembunyi
hanya mendung yang mengurung
lantaran hatinya tergores
oleh panahan mentari pagi
ketika malam enggan mengundur diri
ketika bintang ingin berpesta lagi

tersedar aku dari mimpi
siang masih belum muncul lagi
langit malam kelam
diliputi awan hitam
purnama dipenjara mendung
dan bintang bukan lagi pelindung
kutadah tanganku yang dingin
memohon sejuta doa
kembalikan cahaya
untuk kuhidup ketika senja.

2004

dipetik dari kumpulan puisi BINGKAI WAKTU

Thursday, October 30, 2008

NAZAM BUAT LAILA

Ketika embun berpaut di hujung rumput
dinihari didakap sepi
kau datang mendepani belenggu
membawa pesan alam
tangisan itu melodi hakiki
untuk sebuah lagu realiti

Lalu kutuliskan nazam ini
untuk nyanyian puteri
mentafsir erti sepi

kubiarkan kau menari
bersama mentari pagi
bertemu bintang di malam suram
atau bernyanyi bersama pelangi
asal jangan tersesat hala
di persimpangan tiada arah

kulukiskan peta budi
untuk kau seberangi lautan usia
jangan ada gelombang duka
menghambat kembara
biarkan beburung resah
kembali ke sarang
biarkan malam kelam
berlalu tanpa teman

Padamu kutinggalkan nazam diri
bersama senaskhah tafsiran insani
teruskan langkah menjaring kasih
kan kau temui persinggahan yang pasti.

Miri
1998

dipetik dari kumpulan puisi: BINGKAI WAKTU

Sunday, October 26, 2008

HAIKU#04608



LUMBA PERAHU
PEKAYUH TUA LESU
JUARA TEWAS

Friday, October 24, 2008

SESEPI UMMI

Di atas pusara ummi
aku dilindungi pohonan kemboja
dingin dan tenang meresapi
kukunjungi kenangan lalu
menterjemah makna rindu
terakam di sudut hati
tersimpan di dalam diri
tersingkap helai-helai memori
lalu kukutip sisa-sisa restu
di pintu waktu sendu
dan kesal meruntun kalbu

Semalamku telah menghilir
ke muara janji yang pasti
aku tertinggal di tebing kesal
meratap pada longgokan usia
dengan seribu masa untuk berpesta
ingin mendapatkan sayang
yang telah lama hilang
dibawa kembali ke taman hakiki
jadilah aku penunggu bisu
dihantui malam usang

Di atas pusara sepi bersemi
sesepi kemboja yang terus setia
menjadi teman sepanjang zaman
di sudut hati pilu mengharu
kuntuman layu di dada

Kunanti masa mimpi
menjelajah malam panjang
mencari pelabuhan pasti
memunggah bekalan diri
bagi satu perjalanan jauh
mengejar yang dikasihi

Ummi telah lama pergi
meninggalkan alam insani
singgah di pelabuhan sunyi
menanti saat pelayaran yang jauh
menuju ke pulau pasti.

Kuching
2004

Dipetik dari Kumpulan puisi BINGKAI WAKTU

Tuesday, October 21, 2008

HAIKU#04508

SYAWALNYA SEPI
-ANAK TIDAK KEMBALI
AYAH SENDIRI

Saturday, October 18, 2008

EMPAYAR FATA MORGANA

Kau lahir dari benih dua tanah
antara celah-celah waktu
ketika angin tengah hari
terpenjara di teluk kalbu
ketika matahari gerhana penuh
dan bumi dibuai mimpi

kau kuletak di perbatasan zaman
antara hipokrasi dan toleransi
menjadi penjaga setia pusaka bonda
pengawal padang luas
tinggalan leluhur jujur
untuk generasi seribu musim

dua puluh tahun kupertaruh segala
maruah, sejarah dan setiap tetes darah
untuk kau bentuk menjadi obor
penyuluh laluan ke laman visi pasti
bangsa yang seing terhimpit
antara dua mimpi

malam kusam kelam
muram alam terpadam ditindas kejam
kau berubah menjadi pemangsa
membunuh benih-benih merdeka
membuka tiraikerakusan minda haloba
meluluh lusuh hamparan pembangunan
dan kita pun dibanjiri air mata bangsa

Hari ini tiada lagi kesangsian memutik
helaian sejarah ditulis lagi
menjadi sebuah kitab mitos
cerita jejaka dari sebuah kota purba
mengibar panji-panji merah
membvakar resah setiap daerah

Aku pun terus hidup
di sebalik tembok bobrok
menatap minda makara
membina empayar fata morgana.

dipetik dari kumpulan puisi: BINGKAI WAKTU

Thursday, October 16, 2008

NAMANYA SUHANA A/P MARINA

Kau lahir atas dasar keterpaksaan
dari keruntuhan harkat dan martabat wanita
di celah-celah lorong gelap dan kotor
yang menjanjikan sesuap nasi
membesar bersama kemusnahan nilai budi
tanpa masa muka untuk diimpi
tanpa sejarah cinta untuk dihayati

Ibumu yang bernama Marina
telah lama mengenali
lelaki yang tidak pernah memahami makna kasih
lelaki yang datang dengan seribu gaya
membeli kasih yang dipaksa
menyemai benih yang tercela

Ayahmu tiada siapa yang tahu
apakah seorang lelaki yang petah berbicara
atau pemuda yang terpedaya oleh nafsu
mungkin seorang pengembara yang memburu ilusi
lantas kau hidup sebagai anak tak berbapa
menghirup udara yang penuh noda
menjadi seorang pelayan di sebuah kelab malam

Setelah sekian lama bersama ibumu, Marina
kau mula terpedaya oleh kerdipan neon
dan seperti wanita yang terperosok di sudut gelita
kau membesar menjadi rama-rama
yang terbang di malam suram
menghitung jemari dan hasil diri
terkulai di tepi ranjang yang tidak berteman

Ketika azan subuh membelah suasana sepi
kau masih lagi dibuai mimpi
ada lelaki yang membisikkan janji
dan seperti ibumu Marina
kau tertipu lagi oleh kejelikan seorang lelaki

Mentari pagi yang datang
rupanya bertandang membawa berita
di rumah, ibumu sudah tiada
kembali berjumpa Azza wajalla
setelah sepuluh tahun menderita sakit
kau yang tinggal perlu terus berakit
mengharungi sungai kehidupan
untuk sampai ke muara usia
yang tidak menjanjikan bahagia.

Kuching
15 Mac 2001

Dipetik dari kumpulan puisi: BINGKAI WAKTU

Wednesday, October 15, 2008

KEMBALI KE TALANG-TALANG


Aku ingin kembali
bermalam di Talang-Talang
ketika bulan terang
biar kutemani penyu yang datang
membiak warisan alam
agar tenang hadir bertandang
agar malam bernyanyi girang
Aku ingin kembali
ke pulau seribu janji
ada wajah tinggal bersemi
untuk hiasi galeri seni
di sini aku pernah berjanji
pada langit pagi
akan kulukis hening mentari
yang hadir menghias langit kirmizi
Kembali ke Talang-Talang
ketika ombak kian garang
ketika malam tidak berbintang
dan penyu tidak datang
dan aku terasa malang.
18 Januari 2006
Dipetik dari kumpulan Puisi : BINGKAI WAKTU

Tuesday, October 14, 2008

AIR DARI GUNUNG (ii)


Air dari gunung
menghilir ke muara
bertemu laut luas dan pulau risau
dihempas buas ombak ganas
mereka pun berbicara
Air dari gunung
kembara di sungai lesu
mengusap tebing
dan berbisik mesra
lembut mempesona
tebing terhakis aur mengemis
air dari gunung menerobos bengis
setiap lubuk dan ceruk
di tengah perjalanan gelora bermula
ombak mendera
sampan terpedaya
pendayung terduga
air dari gunung
membawa angkara dan luka
Air dari gunung
adalah aku yang terdorong
oleh ajakan serong
Muara yang lara
adalah engkau yang berduka
menahan luka
seperti wanita yang alpa
kehilangan mahkota ketika bercanda.
Dipetik dari Kumpulan Puisi : BINGKAI WAKTU

Sunday, October 12, 2008

MEREDAH LEMBAH GUNDAH


Telah kau selusuri laluan seribu warna
telah kaubina jaringan jujur
menjadi jambatan penghubung nurani
membentuk citra warga

Telah kau ukir sebuah arca di persada minda
berlambang kesepakatan kata
telah kau cipta sebuah monumen seni
bertatah budi bernilai murni
di penghujung jalan
menuju ke puncak gemilang

seperti pelayaran menuju ke pulau visi
kita dihempas gelombang resah
diusik badai sengketa
dialun ombak haloba
diburu bayu cemburu
kerana pelayaran ini
bukan sebuah ilusi

kita belayar menuju destinasi
untuk membangun pusaka bangsa
yang telah lama ditinggal masa
kita membina pelabuhan pesat
dengan seribu impian
mendiri sebuah kota
yang boleh berkata-kata
yang tahu erti merdeka
yang padat dengan martabat

Hari ini kau melangkah pasti
meredah lembah gundah
dengan semangat tabah
jika esok kau perlu berenang
di tengah lautan yang bergelora
jangan ada risau yang tak terhalau
jangan ada runsing yang mengiring
teman yang setia pasti kembali
bersama seribu doa.

20 Disember 2004

(Dipetik dari kumpulan puisi BINGKAI WAKTU)

Saturday, September 20, 2008

MENGENANG SI TENANG

Dari laut yang ganas

Si tenang bertemu Atan

membawa pesan peradaban

kepada Atan dipohon perlindungan

Si Tenang dan Atan menggamit nurani

menjalin kasih dua dunia

namun kematian pantas menerkam

setelah manusia kehilangan arah

gagal mentafsir makna kehidupan

lantas tersesat di rimba perundangan

Atan dan Si Tenang

bukan sekadar kisah manusia dan dugong

ia adalah terjemahan ulung

tentang kebobrokan manusia agung

Miri

17 Mac 1999

Friday, September 12, 2008

SEPERTI POHON KETAPANG DI TEPI JALAN ITU


KUSUSURI jalan berbatu

panjang dan berliku

kuturuni lembah payah

marah dan lelah

kudaki bukit resah

gundah mencelah

kutatapi dedaun ketapang

gugur di tepi jalan

menutupi bumi dengan warna mati

dan seperti pohon ketapang di tepi jalan itu

aku tabah merentasi waktu

berlabuh di dermaga kaku

sambil memunggah sisa usia


Telah lama kita tidak bersapa

ketika malam dilindungi awan durja

kerana diri yang terlena

sesat di dalam rimba mimpi

memburu dusta di padang ilusi

sedang Engkau tidak pernah berdusta

memujukku mendaki puncak cinta

di situ tempat bertapa

di situ tempat berpesta


Lalu kita terus berjauhan

kerana perpisahan yang disengaja

dan kesombongan yang menggoda

kuperolokkan keyakinan diri

kupersenda nyata kupuja alpa

kusemai benih kasih

di tengah malam jalang

kutiduri ranjang curang

tempat lahirnya petualang


Ketika kemarau meniti pagi

ketika musim layu merayu diri

kuluahkan kesal kubisikkan harap

jadilah aku sampah jalanan

menanti saat dipinggirkan


Biarkanlah aku di sini

menemani ketapang di tepi jalan ini

menjadi pelindung terik mentari

perakam sejarah diri

sambil menanti sedulang janji


Seperti pohon ketapang di tepi jalan itu

aku berdiri menanti

punggur kehidupan rebah di jalanan

tinggal sepi dan mati.

November 1996

Monday, September 8, 2008

GENTA SEPTEMBER



Telah begitu lama
kunanti dekri sakti
mengoyak tirai dogma
melindungi hipokrasi
membusa udara dusta dari pentas getas
mengusap penuh harap
pada suara dari rawa
menerajang bagai badai kencang
meranap punah deretan rumah
peneroka arca yang telah membina istana kaca
menyelinap ke hutan tembelang
menyusup ke ruang jalang

Datang september menggenta
membawa berkat menjunjung harkat
buat anak-anak yang tersesat
bukan waktu mengusungdogma rama-rama
indah dan mempesona
sirna di hujung senja

Sumpah sergah bicara madah
tidak upaya memulih daya
seluruh warga bersatu membatu
merobek pintu waktu
bertarung menjunjung budaya agung
yang terlindung di sudut restu
berrekad mendakap martabat yang terperap
memadam duka kota
September datang bersama badai kencang
menerjah awan hitam
meragut akar tunjang pohon usang
meranap punah resah payah istana goyah

September meresahkan
gentanya menerobos malam
mengundang petualang
memadam terang alam

Kulalui september yang keliru
resahku tidak lagi bersemi
malam semakin kelam
langit direntangi warna kematian

Taman Alma Jaya
Bukit Mertajam
17 Oktober 2001





Friday, September 5, 2008

TRAUMA II



KETIKA embun masih bertandang di hujung rumput

dan mentari masih lena di kaki langit

Noorfitri bertarung dengan sengketa

antara manusia yang lupa

nilai sebuah nyawa

lalu ia terjatuh di tengah pergelutan sumbang

terbaring di ranjang putih

menanti mati yang telah pergi

mengejar hidup yang kian gugup

kehidupan kian sirna

memapah diri yang terluka


Baru setahun Afiq pergi

membawa bersama seribu tuna

meninggalkan kezaliman yang telah mula dewasa

kita yang berdiri masih belum mengerti

bagaimana mengubati hati yang keji

lantas Noorfitri dilukai

seribu keperitan yang tidak tertahan

seperti kematian dewasa yang perkasa

kazalimankah yang sedang bertakhta?

atau kelukaan diri manusia tega

menjelajahi rimba kehidupan

yang penuh semak sengketa


Sengketa manusia sudah lanjut usianya

menyamai kehidupan yang termazkur

derita jiwa dan hiba fikiran

bukan sebuah keharusan merelakan seksa

tidak juga kehancuran kasih dijadikan jaring

bakal menjerut leher kebabasan

kerana ia tidak pernah meminta hiba


Semalam telah kita tabur kemboja di pusara

dan renjis air mawar tanda berduka

jangan lagi ada kematian

kerana kejelikan pekerti

manusia yang tidak memahami

erti tangisan seorang bayi.

Friday, August 29, 2008

TRAUMA



ANAK kecil itu terbaring di atas ranjang

dalam keadaan koma

menanti waktu kembali

dan membawa bersama

sebuah mimpi ngeri


Stigma sosial yang asing

meresapi jasad manusia tega

runtuh martabat ayah

cemar kemuliaan ibu


Ini masa untuk berpesta di pentas manja

atau mengulum es lilin dan gula-gula

lena di dalam buaian

tetapi semuanya tidak begitu


Afiq dilukai luar dan dalam

kita dihantui kezaliman

Afiq pergi setelah mengharungi lautan duka

kita yang tinggal pasti bertanya

di mana nak dipamerkan potret nusa


1994

Wednesday, August 27, 2008

SIMFONI MERDEKA


Telah separuh abad

kita lalui labirin ini

menghela nafas merdeka

di bawah sinar mentari ogos

dan kita teruskan juga

perjalanan kafilah masa

menghala ke destinasi mimpi bangsa

sebuah Negara bangsa berjiwa setia


Telah kita pijak dan injak bara curiga

telah kita selusuri denai dendam

telah kita harungi lautan sengketa

mencari terminal toleransi

tempat berhimpun

mengikis daki prasangka

yang melekat

pada jasad generasi sangsi

kita teramat pasti di sini

di daerah bahari ini

tempat bersemadi nanti


Hari ini, tiga puluh satu ogos

kita berhimpun di bawah bumbung kebebasan

berdiri di atas lantai kesatuan hati

membentuk banjaran gagah megah

sambil menyanyikan lagu syahdu

sebuah simfoni merdeka

jangan lagi ada jiwa merana

menahan panahan dendam

jangan lagi ada hati

tidak memahami erti manusiawi

jangan lagi ada jasad

tersanggat dan terjerat

dalam lingkaran papa

saat mandala bermandi cahaya

meraikan sebuah merdeka.


27 OGOS 2008

Friday, August 8, 2008

NAKHODA HITAM

foto ihsan Muzium Sarawak


Bersimpuh di anjung silam
kutekuni rakaman sejarah
catatan ceritera wanita waja
penggerak minda bangsa
anak-anak Darul Hana
meneroka mandala
membangun cendera

Namamu Nakhoda Hitam -
persona pulau Gameran di Natuna
berjiwa kembara,
datang bersama
denyaran jaya
membangun kampung
di hujung tanjung
berpaksi iltizam ulung

seabad lalu
di Telok Labuan Gadong
yang penuh misteri
kaudirikan ladang perjuangan
membangun kampung persepakatan
untuk anak-anak Natuna,
Riau dan Kalimantan

Kurasai lukamu
memikul kegagalan
kukagumi azammu
membina kehidupan
kusanjungi keperkasaanmu
merentas lautan

Sesekali menatap catatan bisu
kulihat bijaksana wanita
melakar masa muka
siapa menduga,
seorang nakhoda wanita
meredah segara
untuk sampai ke Darul Hana
dengan bibit-bibit kelapa
lalu tercatat sejarah bangsa...

08.08.08



Tuesday, August 5, 2008

HAIKU#04408

hutan dibakar-
masa menugal bibit
padi mahsuri

Monday, August 4, 2008

HAIKU#04308

LUMBA PERAHU
PESTA MENCARI DAMAI,
SUNGAI BERKOCAK


Thursday, July 31, 2008

HAIKU#04208


DINGIN TENGKUJUH
KUTIP ENGKABANG HANYUT-
KURNIA ALAM


Sunday, July 27, 2008

HAIKU#04108




LUMBA PERAHU,
YA! SIMBOL KEDAMAIAN
HATI MENGERTI?


Thursday, July 24, 2008

PETA MENUJU EUFORIA


Menelusuri jajaran waktu –

antara helai-helai memori

kuselit cebisan nota hati

tentang mimpi

menggenggam api

tinggal bara

-telah kulupa


ada raga tercedera

dicantas pedang sengketa

tika musim memburu

luka bernanah resah

dijerat perangkap cinta

berparut dendam di wajah

tinggal menjadi sejarah


mimpiku dihambat dahina

menjadi debu haru

berserakan di tugu pilu

terbakar dik mentari pagi


aku harus terima

bahari mendidik insani

membentuk manusiawi dalam diri

menjadi darwis

terpenjara di pesawangan

merdeka di jiwa


Ketika tirai senja dilabuhkan

aku harus tahu sasaran

mencari titik pertemuan

kerana di sana tertinggal khazanah

peta menuju EUFORIA

16 Julai 2008

TANKA #072008

PAGI DI KAMPUNG
NIKMATNYA SERI MUKA
INGAT KEMBALI
BUDAK PENJUAL KUIH -
KINI SEORANG DATUK

Tuesday, July 22, 2008

HAIKU#04008


Malam tengkujuh

kau di ranjang sendiri –

dingin mendakap

Sunday, July 20, 2008

HAIKU#03908


Tengkujuh tiba –

dan nelayan bertanya,

esok ke laut?

Friday, July 18, 2008

TANKA#062008


POTRET LAMAKU
YANG TERGANTUNG DI DINDING
MENGINGATKANKU
SAHABAT DI SIMUNJAN -
AH! SETIANYA TEMAN

Thursday, July 17, 2008

HAIKU #03808

BERBUKA PUASA
TANPA SEBIJI TAMAR -
SI FAKIR
PASRAH

Monday, July 14, 2008

HAIKU#03708

HUJAN DI MUSIM
LANDAS - PENOREH GETAH
MENANTI TEDUH

Friday, July 11, 2008

kaMUKAH YANG GAGAH?



Kamukah yang gagah

dalam bermadah

kini parah

menongkah resah

di sungai gelisah


Kamukah pelaut terbilang

membelah lautan jalang

ketemu pulau yang hilang

bahtera tergalang

layar dikoyak dubalang


Kamukah insan perkasa

memeta suara masa

agar tercipta warisan bangsa

tersilap menyusun nota

lagumu mengundang petaka


Kamukah yang berdiri

menyepi di tepi mimpi

malammu telah pulang

mimpimu telah hilang

dan kami kembali membilang

musim-musim yang malang.


070707

Kuching