Kata pujangga," senyuman berlaku sepantas kilat, namun memorinya kekal sepanjang hayat." Memori selalu hadir dalam diri. Memori ketika hadir terkadang membuat kita tersenyum. Namun memori biarlah ia tinggal menjadi memori. Usah cuba kembali ke zaman memori lalu atau bermimpi memori kembali di dalam kehidupan hari ini. Kerana memori yang kembali hadir di dalam diri menjadi mimpi selalunya akan menjadi igauan ngeri.
Lalu, kalau begitu, biarkan memori bertandang di dalam sejarah diri, lestari dan tetap diingati.
Akhir catatan ringkas ini saya tinggalkan kata-kata mutiara seorang penyair terkemuka, Rabindranath Tagore, yang sangat menyentuh diri saya:
The butterfly counts not months but moments, and has time enough.
Foto bersama teman-teman sekitar tahun 1972 di lapangan terbang Kuching. Yang bertali leher itu seorang teman yang akan berangkat ke Australia menyambungkan pelajaran di Monash University atas biasiswa Colombo Plan.




