Saturday, October 17, 2009

SEMERAH TEJA


Kutiduri malam bersamamu

didakap dingin

kuredah sepi pagi

bersama suria yang terlena


Akulah teman senjamu

berdiri di tebing sungai usia

menatap teja semerah darah

melantun warna luka

dan merah itulah yang tertinggal

bersama mimpiku


Kunanti sepenuh hati

cahaya mentari pagi

menembusi langit menghapus kabus

kuingin melihat senyum dari wajahmu


Semerah teja di akhir senjamu

seindah itulah mimpiku

dan kita terus berbicara

tentang cinta di akhir usia.


16 September 2007


7 comments:

  1. CT suka puisi ini...terima kasih & wassalam

    ReplyDelete
  2. Salam,
    CT: terima kasih kerana menyukainya saya senang sekali
    Sdr Zul: Terima kasih atas penghargaan.

    ReplyDelete
  3. Sebuah puisi dalam semantik cinta, emmm tentu satu penelusuran rasa yang terlalu suci untuk diterjemahkan...

    ReplyDelete
  4. Salam FH,
    Masa "bercinta" tidak pernah berakhir. Hamba senang melintas masa dengan bertemankan cinta.

    ReplyDelete
  5. kolek itu teroleng lemah
    bila sesekali badai menerpa
    tatkala bayu menampar mulus wajahku
    ketika itu senja mula menyingsing
    jingga mu mengasyikkan
    seperti aq x mau kamu pergi
    indah sungguh panorama mu
    jika kamu pergi nanti
    malam gelap dan kelam

    kamu tahu?
    aq setia di tunggul itu
    setelah kamu melewati waktu
    aq x henti mendongak kelangit
    tunjuk bintang!

    ReplyDelete
  6. Salam Aq,
    Bapak suka malam yang dipenuhi bintang. Bintang itu petunjuk arah ketika kita melayari bahtera di samudera luas

    ReplyDelete