Kutiduri malam bersamamu
didakap dingin
kuredah sepi pagi
bersama suria yang terlena
Akulah teman senjamu
berdiri di tebing sungai usia
menatap teja semerah darah
melantun warna luka
dan merah itulah yang tertinggal
bersama mimpiku
Kunanti sepenuh hati
cahaya mentari pagi
menembusi langit menghapus kabus
kuingin melihat senyum dari wajahmu
Semerah teja di akhir senjamu
seindah itulah mimpiku
dan kita terus berbicara
tentang cinta di akhir usia.
16 September 2007
CT suka puisi ini...terima kasih & wassalam
ReplyDeleteSalam Pak PenaBahari,
ReplyDelete"cantik".
Salam,
ReplyDeleteCT: terima kasih kerana menyukainya saya senang sekali
Sdr Zul: Terima kasih atas penghargaan.
Sebuah puisi dalam semantik cinta, emmm tentu satu penelusuran rasa yang terlalu suci untuk diterjemahkan...
ReplyDeleteSalam FH,
ReplyDeleteMasa "bercinta" tidak pernah berakhir. Hamba senang melintas masa dengan bertemankan cinta.
kolek itu teroleng lemah
ReplyDeletebila sesekali badai menerpa
tatkala bayu menampar mulus wajahku
ketika itu senja mula menyingsing
jingga mu mengasyikkan
seperti aq x mau kamu pergi
indah sungguh panorama mu
jika kamu pergi nanti
malam gelap dan kelam
kamu tahu?
aq setia di tunggul itu
setelah kamu melewati waktu
aq x henti mendongak kelangit
tunjuk bintang!
Salam Aq,
ReplyDeleteBapak suka malam yang dipenuhi bintang. Bintang itu petunjuk arah ketika kita melayari bahtera di samudera luas